BREAKING

NASEHAT AGAMA

BERITA DAERAH

POSTING TERBARU

Monday, December 3, 2018

Gubernur Jawa Tengah Dukung Muswil LDII

LDII-BMS/SEMARANG―Meskipun gagal hadir dan membuka Musyawarah Wilayah (Muswil) LDII Provinsi Jawa Tengah yang berlangsung di Patra Jasa Convention Hotel Semarang, Sabtu-Minggu (29-30/11), Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap kegiatan yang merupakan hajat lima tahunan DPW LDII Jateng ini.
Apresiasi dan dukungan tersebut disampaikan Ganjar melalui sambutan tertulis yang dibacakan secara lengkap oleh Dr H Muhammad Aris, Kabag Keagamaan Sekda Provinsi Jawa Tengah yang mewakilinya. Dalam sambutannya Ganjar berharap Muswil bisa menjadikan LDII lebih solid dan warganya menjadi insan-insan yang profesional dan religius, sesuai tema yang diusung.
Lebih jauh Ganjar menyampaikan keinginannya agar LDII Jawa Tengah bisa mengambil peran nyata dalam pembangunan bangsa, khususnya di Jawa Tengah. Dalam konteks yang lebih luas, Ganjar meminta agar LDII mendukung program Revolusi Mental yang telah dicanangkan oleh Presiden RI, Joko Widodo. Bahkan Ganjar menghendaki LDII menjadi motor-motor dan garda terdepan dalam mewujudkan revolusi ini.
Di bagian akhir sambutannya, Gubernur Ganjar mengatakan pemerintah Provinsi Jateng membuka seluas-luasnya peluang kerjasama antara LDII dan seluruh elemen pemerintah di Jawa Tengah, untuk bisa bahu membahu dan bergandengan tangan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa, termasuk dalam menangkal pengaruh-pengaruh paham Islam radikal seperti ISIS yang mulai berkembang di masyarakat.
Hal ini kata gubernur, bisa dilakukan dengan terus-menerus menguatkan nilai-nilai kebangsaan diantara warga-warga LDII dan masyarakat secara luas melalui berbagai kegiatan yang dilaksanakan organisasi, dan untuk itu gubernur berjanji dirinya dan segenap elemen pemerintah di Jawa Tengah siap mendukung penuh program-program yang dilakukan oleh LDII Provinsi Jawa Tengah.
Terkait ketidakhadiran Ganjar, Ketua DPW LDII Provinsi Jawa Tengah, Prof Dr Singgih Tri Sulistiyono MHum menjelaskan, Gubernur Ganjar Pranowo sedianya akan hadir sendiri untuk memberikan pengarahan kepada kader-kader LDII Jawa Tengah dan membuka acara Muswil, tetapi batal karena pada hari yang sama harus mendampingi presiden dalam kunjungan kerjanya di Wonogiri.(sbr)

LDII Banyumas Launching Official Website


LDII Banyumas Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LDII Kabupaten Banyumas resmi melaunching Website organisasi dengan nama www.ldiibanyumas.or.id. Launching ditandai dengan kegiatan pelatihan pengelolaan website yang dimotori oleh jajaran pengurus Bidang Komunikasi, Informasi dan Media.

Pelatihan sehari berlangsung di Aula Ponpes Baitul Machmud Desa Pekaja Kecamatan Kalibagor, Minggu, 27 April 2014. Peserta pelatihan sebanyak 5 orang, terdiri dari Ketua Bidang Komunikasi Informasi dan Media, Agus Ganjar Runtiko beserta 2 anggotanya, Suprapto dan Imam Hidayat, serta dua orang Sekretaris, Sarlan dan Sofi Pujiyanto.

Pelatihan yang menghadirkan narasumber yang sekaligus desainer web, juga ditinjau oleh Wakil Ketua DPD LDII Kabupaten Banyumas, Achmad Sumanto dan beberapa orang Pembina.

Tujuan diadakannya pelatihan tersebut, kata Achmad Sumanto sebagai upaya awal untuk mengoptimalkan pemanfaatan dan perawatan (maintenance) website yang telah dibuat. “Dengan adanya pembekalan awal ini diharapkan para pengelola website nantinya memiliki pengetahuan dasar untuk menjalankan tugas sebagai webmaster dengan baik” katanya.

Adapun mengenai tujuan launching website sendiri, Sekretaris II, Sofi Pujiyanto menjelaskan, website diharapkan menjadi salah satu sarana alternatif yang sesuai dengan perkembangan teknologi informasi saat ini, untuk menyebarluaskan informasi mengenai eksistensi dan aktivitas LDII sebagai sebuah organisasi dakwah Islam yang legal.

Sofi juga membeberkan, segera setelah website dilaunching dan dipergunakan, jajaran pengurus DPD akan menyelenggarakan pelatihan jurnalistik bagi para calon kontributor berita di tingkat PC/PAC di seluruh wilayah Kabupaten Banyumas, guna mendukung keberlangsungan eksistensi website ini kedepan.

“Kita harapkan, semangat ini tidak hanya di awal, tetapi betul-betul menjadi sebuah komitmen dan konsistensi bersama semua jajaran pengurus DPD dan PC/PAC, sehingga kedepan website LDII Kabupaten Banyumas akan semakin maju, berita-beritanya berkualitas dan up-to date, dan akhirnya menjadi salah satu media informasi dan edukasi bagi masyarakat yang mencerahkan dan menyejukkan” pungkas Sofi.(sbr)

Tuesday, March 29, 2016

Puluhan Mahasiswa dan Remaja LDII Ramai-Ramai Bikin Siomay


n Workshop Kemandirian dan Kewirausahaan

LDII-BANYUMAS/PURWOKERTO―Puluhan remaja putra dan putri terlihat sibuk. Sebagian ada yang sedang menyiapkan kompor dan penggorengan, mencampur tepung dan bahan lain menjadi adonan, menggoreng kacang tanah dan lain-lain. Sebagian lagi tampak serius mendengarkan instruksi melalui pengeras suara, kemudian sesekali mengarahkan anggota kelompoknya agar tidak salah urutan dalam memasak.

Demikian gambaran suasana saat tidak kurang dari 90 orang mahasiswa dan kader remaja LDII Purwokerto yang rata-rata berusia 20-an tahun tersebut mengikuti kegiatan Workshop Kemandirian dan Kewirausahaan di Masjid dan lingkungan sekitar kompleks Pondok Pesantren Pelajar dan Mahasiswa Al-Kautsar Kelurahan Sumampir Purwokerto, Rabu (9/3). Agenda praktek kemandiriannya adalah membuat siomay.

Workshop yang diselenggarakan oleh Remaja Sholih Sholihah Purwokerto Satria (RESPATI), sebuah perhimpunan remaja dibawah naungan Bagian Pemuda Kepanduan Olahraga dan Seni Budaya, DPD LDII Kabupaten Banyumas tersebut bertujuan meningkatkan jiwa kemandirian dan semangat kewirausahaan serta life skill (keterampilan hidup) praktis para remaja LDII. Demikian diungkapkan Ragil Bani Iman SS, Ketua Panitia kegiatan yang juga pengurus DPD LDII Kabupaten Banyumas.

“Meskipun komunitas remaja berbasis masjid dan kegiatan agama, kegiatan kami tidak hanya ibadah dan ngaji” tutur Ragil. “Kami juga mengadakan kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan kreativitas, agar nantinya remaja LDII menjadi orang-orang yang mandiri, dapat bekerja atau menciptakan lapangan kerja, dan hidup tidak menjadi beban orang lain” terangnya. “Ini sesuai dengan program LDII dalam pembinaan remaja, yaitu meraih Tri Sukses : Faham Agama, Berakhlakul Karimah dan Mandiri” imbuhnya.

Alasan dipilihnya siomay untuk praktek memasak, kata Ragil, karena makanan ini tergolong cukup murah dan mudah dalam membuatnya, namun cukup diminati oleh masyarakat. Sebelumnya, panitia telah “berguru” cara membuat siomay kepada salah satu pembuat dan penjual siomay yang sudah cukup berpengalaman, Bu Sipur asal Desa Pekaja Kecamatan Kalibagor, kemudian ilmu siomay tersebut ditularkan kepada para peserta workshop.

Rangkaian kegiatan workshop diawali dengan pembukaan oleh Drs H Herry Nuryanto Widodo selaku pengurus PPM Al-Kautsar, dilanjutkan penyampaian materi kemandirian dan kewirausahaan oleh Drs H Rochman Abidin. Sebelum praktek memasak siomay juga diadakan permaian-permainan kelompok untuk meningkatkan keakraban dan mempererat tali silaturrahim antar peserta workshop.(sbr)



Thursday, March 17, 2016

Ratusan Pelajar dan Mahasiswa LDII Ikuti Workshop Peningkatan Kapasitas


LDII-BANYUMAS/PURWOKERTO―Sekitar 150 pelajar dan remaja utusan dari Pengurus Cabang (PC) dan Pengurus Anak Cabang (PAC) LDII di wilayah Purwokerto mengikuti kegiatan Workshop Pelajar dan Remaja Purwokerto, Rabu (9/3) mulai 08.30 s/d 15.00 WIB. Workshop digelar di Aula Pondok Pesantren Baitul Machmud Pekaja, Kalibagor-Banyumas.  

Para pelajar dan mahasiswa yang rata-rata berusia 19 tahun kebawah tersebut dengan antusias mengikuti sesi demi sesi workshop yang diselenggarakan oleh Remaja Sholih Sholihah Purwokerto Satria (RESPATI), sebuah wadah kegiatan remaja yang dikelola oleh Bagian Pemuda Kepanduan Olahraga dan Seni Budaya DPD LDII Kabupaten Banyumas.

Kegiatan dibuka oleh Mujimin SPd selaku pengurus DPD LDII Kabupaten Banyumas mewakili Ketua DPD, H Sutanto MBA. Materi pertama berjudul “Berpengaruh atau Terpengaruh” disampaikan oleh Riyatno SS MHum, yang kedua “Belajar Efektif” oleh Indra Hidayatulloh Skom MT, keduanya dosen di Sekolah Tinggi Teknik Telekomunikasi (ST3) Telkom Purwokerto.

Riyatno dalam paparannya berpesan, pelajar dan mahasiswa tidak boleh terpengaruh dengan budaya-budaya luar yang tidak sesuai dengan norma agama, norma sosial dan norma hukum. Sebaliknya mereka harus punya pengaruh positif yang kuat terhadap lingkungan sekitarnya. “Jatidiri pelajar dan mahasiswa Indonesia jangan sampai tergerus dengan pengaruh kerusakan zaman dan era modern dan global saat ini” katanya.

Sementara Indra memberikan tips dan trik praktis cara belajar yang efektif dan efisien. Dia menyebut beberapa tips diantaranya mencatat pelajaran menggunakan teknik mind-mapping, membuat analogi untuk rumus atau materi pelajaran yang sulit, serta mengimajinasikan apa yang telah dipelajari dan mengajarkannya kepada teman atau orang lain. Indra juga berpesan agar para peserta tidak mudah merasa cukup dengan apa yang telah dikuasai.

Ketua panitia kegiatan, Zulfa Aditya Putra menjelaskan, kegiatan dimaksudkan untuk membekali para pelajar dan mahasiswa LDII di Purwokerto dengan berbagai wawasan dan pengetahuan tentang pentingnya menjaga diri dan agama dari pengaruh-pengaruh negatif pergaulan dan teknologi saat ini. Workshop juga diharapkan menjadi wahana belajar agar mereka siap menghadapi ujian di sekolah/kampus.

Lebih lanjut Zulfa mengatakan, workshop kali ini merupakan rangkaian dari kegiatan peningkatan kapasitas pelajar dan remaja LDII se-Kabupaten Banyumas yang diselenggarakan oleh RESPATI. Pada waktu yang sama juga dilaksanakan kegiatan sejenis, bertema peningkatan kemandirian dan kewirausahaan. Pelatihan kewirausahaan untuk remaja usia 20 tahun keatas tersebut bertempat di Aula Ponpes Pelajar dan Mahasiswa “Al-Kautsar” Sumampir-Purwokerto.

Selain penyampaian materi pokok, kegiatan workshop dilanjutkan dengan acara keakraban, berupa permainan-permainan kelompok yang mendidik dan menghibur. Tujuannya untuk mempererat tali persaudaraan antar peserta.(sbr)


Tuesday, March 15, 2016

Larangan Isbal Dalam Islam - Seri Pakaian Muslim Bagian I


Mungkin sebagian orang sering menjumpai di sekitarnya laki-laki muslim yang celananya di atas mata kaki (cingkrang). Dan mereka tidak jarang mencemoohnya dengan mengatakan ‘celana kebanjiran’, ‘celana kurang bahan’ dan sebagainya. Nah, bagaimana sebenarnya aturan memakai pakaian bawah bagi kaum muslim laki-laki? Tulisan ini insya Allah akan sedikit membahas mengenai apakah cara berpakaian seperti di atas merupakan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau bukan.

Banyak muslim yang tidak mengenal cara berpakaian yang sesuai syariat agama yang dianutnya. Sejatinya Bagi kaum pria pakaian bagian bawahnya baik berupa celana gamis, celana panjang maupun sarung, dan lain-lain haruslah berada di atas mata kaki (tidak boleh menutupi mata kaki). “Apa iya ???”

Mari kita lihat beberapa hadits dari Kutubus Sittah (6 kitab hadist yang populer dan dikenal di kalangan umat Islam yaitu Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Tirmidzi, Sunan Ibni Majah, Sunan Nasai, dan Sunan Abi Dawud). Dalam semua kitab hadits yang kita sebutkan diatas terdapat bab khusus yang membahas tentang cara berpakaian umat Islam dengan judul bab “Kitabullibas” (Catatan tentang Cara Berpakaian).

Dan, ketahuilah, bagi kaum pria, semua riwayat hadits menandaskan larangan “isbal” (memanjangkan/menjulurkan pakaian hingga menutupi mata kaki). Jadi pakaian bawah harus di atas mata kaki dan tidak boleh menutupinya.

Penampilan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Celana Setengah Betis

Perlu diketahui bahwa celana di atas mata kaki adalah sunnah dan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini dikhususkan bagi laki-laki, sedangkan wanita diperintahkan untuk menutup telapak kakinya. Kita dapat mengetahui bahwa dalam keseharian beliau pakaian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berada di atas mata kaki.

Dari Al Asy’ats bin Sulaim, ia berkata :

سَمِعْتُ عَمَّتِي ، تُحَدِّثُ عَنْ عَمِّهَا قَالَ : بَيْنَا أَنَا أَمْشِي بِالمَدِيْنَةِ ، إِذَا إِنْسَانٌ خَلْفِي يَقُوْلُ : « اِرْفَعْ إِزَارَكَ ، فَإِنَّهُ أَنْقَى» فَإِذَا هُوَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّمَا هِيَ بُرْدَةٌ مَلْحَاءُ) قَالَ : « أَمَّا لَكَ فِيَّ أُسْوَةٌ ؟ » فَنَظَرْتُ فَإِذَا إِزَارَهُ إِلَى نِصْفِ سَاقَيْهِ

Saya pernah mendengar bibi saya menceritakan dari pamannya yang berkata, “Ketika saya sedang berjalan di kota Al Madinah, tiba-tiba seorang laki-laki di belakangku berkata, ’Angkat kainmu, karena itu akan lebih bersih.’ Ternyata orang yang berbicara itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berkata, ”Sesungguhnya yang kukenakan ini tak lebih hanyalah burdah yang bergaris-garis hitam dan putih”. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah engkau tidak menjadikan aku sebagai teladan?” AKU MELIHAT KAIN SARUNG BELIAU, TERNYATA UJUNG BAWAHNYA DI PERTENGAHAN KEDUA BETISNYA.”

Dari Hudzaifah bin Al Yaman, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang salah satu atau kedua betisnya. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هَذَا مَوْضِعُ الإِزَارِ فَإِنْ أَبِيْتَ فَأَسْفَلَ فَإِنْ أَبِيْتَ فَلاَ حَقَّ لِلإْزَارِ فِي الْكَعْبَيْنِ

Di sinilah letak ujung kain. Kalau engkau tidak suka, bisa lebih rendah lagi. Kalau tidak suka juga, boleh lebih rendah lagi, akan tetapi tidak dibenarkan kain tersebut menutupi mata kaki.”

Dari dua hadits ini terlihat bahwa celana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berada di atas mata kaki sampai pertengahan betis. Boleh bagi seseorang menurunkan celananya, namun dengan syarat tidak sampai menutupi mata kaki. Ingatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan terbaik bagi kita. Adakah yang menghalangi kita untuk mengikuti tauladannya?

Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab [60] : 21)

Menjulurkan Celana Hingga Di Bawah Mata Kaki

Perhatikanlah hadits-hadits yang kami bawakan berikut ini yang sengaja kami bagi menjadi dua bagian.

·         Pertama: Menjulurkan celana di bawah mata kaki dengan sombong

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ

Allah tidak akan melihat kepada orang yang menyeret pakaianya dalam keadaan sombong.” (HR. Muslim no. 5574).
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ الَّذِى يَجُرُّ ثِيَابَهُ مِنَ الْخُيَلاَءِ لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Sesungguhnya orang yang menyeret pakaiannya dengan sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 5576)

Masih banyak lafazh yang serupa dengan dua hadits di atas dalam Shohih Muslim. Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Ada tiga orang yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat nanti, tidak dipandang, dan tidak disucikan serta bagi mereka siksaan yang pedih.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut tiga kali perkataan ini. Lalu Abu Dzar berkata :

خَابُوا وَخَسِرُوا مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ

Mereka sangat celaka dan merugi. Siapa mereka, Ya Rasulullah?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :

الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ

Mereka adalah orang yang isbal, orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR. Muslim no. 306).

Orang yang isbal (musbil) adalah orang yang menjulurkan pakaian atau celananya di bawah mata kaki.

·         Kedua: Menjulurkan celana di bawah mata kaki tanpa sombong

Dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِى النَّارِ

“Kain yang berada di bawah mata kaki itu berada di neraka.” (HR. Bukhari no. 5787)

Dari hadits-hadits di atas terdapat dua bentuk menjulurkan celana dan masing-masing memiliki konsekuensi yang berbeda. Kasus yang pertama-sebagaimana terdapat dalam hadits Ibnu Umar di atas-yaitu menjulurkan celana di bawah mata kaki (isbal) dengan sombong. Hukuman untuk kasus pertama ini sangat berat yaitu Allah tidak akan berbicara dengannya, juga tidak akan melihatnya dan tidak akan disucikan serta baginya azab (siksaan) yang pedih. Bentuk pertama ini termasuk dosa besar.

Kasus yang kedua adalah apabila seseorang menjulurkan celananya tanpa sombong. Maka ini juga dikhawatirkan termasuk dosa besar karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam perbuatan semacam ini dengan neraka. Perhatikan bahwasanya hukum di antara dua kasus ini berbeda.

Tidak bisa kita membawa hadits muthlaq dari Abu Huroiroh pada kasus kedua ke hadits muqoyyad dari Ibnu Umar pada kasus pertama karena hukum masing-masing berbeda. Bahkan ada sebuah hadits dari Abu Sa’id Al Khudri yang menjelaskan dua kasus ini sekaligus dan membedakan hukum masing-masing. Lihatlah hadits yang dimaksud sebagai berikut :

إِزْرَةُ الْمُسْلِمِ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ وَلاَ حَرَجَ – أَوْ لاَ جُنَاحَ – فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ مَا كَانَ أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ فَهُوَ فِى النَّارِ مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ

“Pakaian seorang muslim adalah hingga setengah betis. Tidaklah mengapa jika diturunkan antara setengah betis dan dua mata kaki. Jika pakaian tersebut berada di bawah mata kaki maka tempatnya di neraka. Dan apabila pakaian itu diseret dalam keadaan sombong, Allah tidak akan melihat kepadanya (pada hari kiamat nanti).” (HR. Abu Daud no. 4095)

Jika kita perhatikan dalam hadits ini, terlihat bahwa hukum untuk kasus pertama dan kedua berbeda. Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa jika menjulurkan celana tanpa sombong maka hukumnya MAKRUH karena menganggap bahwa hadits Abu Huroiroh pada kasus kedua dapat dibawa ke hadits Ibnu Umar pada kasus pertama. Maka berarti yang dimaksudkan dengan menjulurkan celana di bawah mata kaki sehingga mendapat ancaman (siksaan) adalah yang menjulurkan celananya dengan SOMBONG.

Jika tidak dilakukan dengan sombong, hukumnya MAKRUH. Hal inilah yang dipilih oleh An Nawawi dalam Syarh Muslim dan Riyadhus Shalihin, juga merupakan pendapat Imam Syafi’i serta pendapat ini juga dipilih oleh Syaikh Abdullah Ali Bassam di Tawdhihul Ahkam min Bulughil Marom-semoga Allah merahmati mereka-. Namun, pendapat ini kurang tepat. Jika kita melihat dari hadits-hadits yang ada menunjukkan bahwa hukum masing-masing kasus berbeda. Jika hal ini dilakukan dengan sombong, hukumannya sendiri. Jika dilakukan tidak dengan sombong, maka kembali ke hadits mutlak yang menunjukkan adanya ancaman neraka.

Bahkan dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri dibedakan hukum di antara dua kasus ini. Perhatikan baik-baik hadits Abu Sa’id di atas: Jika pakaian tersebut berada di bawah mata kaki maka tempatnya di neraka. Dan apabila pakaian itu diseret dalam keadaan sombong, Allah tidak akan melihat kepadanya (pada hari kiamat nanti). Jadi, yang menjulurkan celana dengan sombong ataupun tidak, tetap mendapatkan hukuman. Wallahu a’lam bish showab.
-> Catatan: Perlu kami tambahkan bahwa para ulama yang menyatakan makruh seperti An Nawawi dan lainnya, mereka tidak pernah menyatakan bahwa hukum isbal adalah BOLEH kalau tidak dengan sombong. Mohon, jangan disalahpahami maksud ulama yang mengatakan demikian. Ingatlah bahwa para ulama tersebut hanya menyatakan makruh dan bukan menyatakan boleh berisbal. Ini yang banyak salah dipahami oleh sebagian orang yang mengikuti pendapat mereka.

Maka hendaklah perkara makruh itu dijauhi, jika memang kita masih memilih pendapat yang lemah tersebut. Janganlah terus-menerus dalam melakukan yang makruh. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua. Orang “Sombong” adalah yang Menolak Barang Haq/Kebenaran dan Meremehkan/Merendahkan Manusia Hakikinya Orang  sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Ini merupakan sifat penghuni neraka.

Allah Ta’ala berfirman:

 قِيلَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ

“Dikatakan (kepada mereka), “Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, dalam keadaan kekal di dalamnya” Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. Az-Zumar: 72) 

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

 لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga, orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi kesombongan.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya bagaimana jika seseorang menyukai apabila baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)

* Sedikit Kerancuan, Abu Bakar Pernah Menjulurkan Celana Hingga di Bawah Mata Kaki

Bagaimana jika ada yang berdalil dengan perbuatan Abu Bakr dimana Abu Bakr dahulu pernah menjulurkan celana hingga di bawah mata kaki? Adapun yang berdalil dengan hadits Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, maka kami katakan tidak ada baginya hujjah (pembela atau dalil) ditinjau dari dua sisi. Pertama, Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu mengatakan, ”Sesungguhnya salah satu ujung sarungku biasa melorot kecuali jika aku menjaga dengan seksama.” Maka ini BUKAN berarti dia melorotkan (menjulurkan) sarungnya karena kemauan dia. Namun sarungnya tersebut melorot dan selalu dijaga.

Orang-orang yang isbal (menjulurkan celana hingga di bawah mata kaki, pen) biasa menganggap bahwa mereka tidaklah menjulurkan pakaian mereka karena maksud sombong. Kami katakan kepada orang semacam ini : Jika kalian maksudkan menjulurkan celana hingga berada di bawah mata kaki tanpa bermaksud sombong, maka bagian yang melorot tersebut akan disiksa di neraka. Namun jika kalian menjulurkan celana tersebut dengan sombong, maka kalian akan disiksa dengan azab (siksaan) yang lebih pedih daripada itu yaitu Allah tidak akan berbicara dengan kalian pada hari kiamat, tidak akan melihat kalian, tidak akan mensucikan kalian dan bagi kalian siksaan yang pedih.

Kedua, Sesungguhnya Abu Bakr sudah diberi tazkiyah (rekomendasi atau penilaian baik) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sudah diakui bahwa Abu Bakr tidaklah melakukannya karena sombong. Lalu apakah di antara mereka yang berperilaku seperti di atas (dengan menjulurkan celana dan tidak bermaksud sombong, pen) sudah mendapatkan tazkiyah dan syahadah (rekomendasi)?! Akan tetapi syaithon membuka jalan untuk sebagian orang agar mengikuti ayat atau hadits yang samar (dalam pandangan mereka, pen) lalu ayat atau hadits tersebut digunakan untuk membenarkan apa yang mereka lakukan.

Allah-llah yang memberi petunjuk ke jalan yang lurus kepada siapa yang Allah kehendaki. Kita memohon kepada Allah agar mendapatkan petunjuk dan ampunan. *Marilah Mengagungkan dan Melaksanakan Ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Allah Ta’ala berfirman, مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ “Barangsiapa yang menta’ati Rasul, sesungguhnya ia telah menta’ati Allah.” (QS. An Nisa’ [4] : 80) فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An Nur [24] : 63) وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ “Dan jika kamu ta’at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. An Nur [24] : 54) Hal ini juga dapat dilihat dalam hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu seolah-olah inilah nasehat terakhir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati para sahabat radhiyallahu ‘anhum, فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ “Berpegangteguhlah dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rosyidin yang mendapatkan petunjuk (dalam ilmu dan amal). Pegang teguhlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban. At Tirmidizi mengatakan hadits ini hasan shohih. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih) Salah seorang khulafa’ur rosyidin dan manusia terbaik setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu mengatakan, لَسْتُ تَارِكًا شَيْئًا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَعْمَلُ بِهِ إِلَّا عَمِلْتُ بِهِ إِنِّي أَخْشَى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيْغَ ”Aku tidaklah biarkan satupun yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam amalkan kecuali aku mengamalkannya karena aku takut jika meninggalkannya sedikit saja, aku akan menyimpang.” (Lihat Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa atsar ini shohih) *Sahabat Sangat Perhatian dengan Masalah Celana Sebagai penutup dari pembahasan ini, kami akan membawakan sebuah kisah yang menceritakan sangat perhatiannya salaf (shahabat) dengan masalah celana di atas mata kaki, sampai-sampai di ujung kematian masih memperingatkan hal ini. Dalam shohih Bukhari dan shohih Ibnu Hibban, dikisahkan mengenai kematian Umar bin Al Khaththab setelah dibunuh seseorang ketika shalat. Lalu orang-orang mendatanginya di saat menjelang kematiannya. Lalu datanglah pula seorang pemuda. Setelah Umar ngobrol sebentar dengannya, ketika dia beranjak pergi, terlihat pakaiannya menyeret tanah (dalam keadaan isbal). Lalu Umar berkata, رُدُّوا عَلَىَّ الْغُلاَمَ “Panggil pemuda tadi!” Lalu Umar berkata, ابْنَ أَخِى ارْفَعْ ثَوْبَكَ ، فَإِنَّهُ أَبْقَى لِثَوْبِكَ وَأَتْقَى لِرَبِّكَ ، “Wahai anak saudaraku. Tinggikanlah pakaianmu! Sesungguhnya itu akan lebih mengawetkan pakaianmu dan akan lebih bertakwa kepada Rabbmu.” Jadi, masalah isbal (celana menyeret tanah/menutupi mata kaki) adalah perkara yang amat penting. Jika ada yang mengatakan ‘kok masalah celana saja dipermasalahkan dan mana dalilnya atau hadist celana diatas mata kaki?’ Maka cukup kisah ini sebagai jawabannya. Kita menekankan masalah ini karena salaf (shahabat) juga menekankannya.  Semoga kita dimudahkan dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah- Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Semoga Allah selalu memberikan ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyib, dan menjadikan amalan kita diterima di sisi-Nya. Innahu sami’un qoriibum mujibud da’awaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. (sp)

Sumber : http://www.jabar.ldii.or.id/hukum-celana-menutupi-mata-kaki/

Tuesday, March 8, 2016

Tokoh dari Berbagai Agama Ajak Masyarakat Banyumas Cinta NKRI Bag. II

   LDII-BANYUMAS/PURWOKERTO―Lima pemuka agama dan tokoh ormas agama di Kabupaten Banyumas yang mewakili berbagai agama yaitu Islam, Kristen dan Katholik menyampaikan materi dan mengajak masyarakat di Kabupaten Banyumas untuk meningkatkan rasa cinta terhadap Tanah Air Indonesia.

Para pemateri secara bergantian berceramah dalam acara Seminar Lintas Agama yang diselenggarakan oleh Yayasan Jama’atul Muslimin Kabupaten Banyumas bekerjasama dengan Forum Kerukunan antar Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Banyumas, Minggu (20/2) di Gedung Wakafiyah NU Jl Kertadirjan No 13 Karangbangkang Sokaraja Kulon Banyumas. Tema yang diusung “Menjadi Bangsa Indonesia yang Beragama.”

Acara yang diikuti puluhan santri, jemaat, pemuka agama dan kader ormas agama di Banyumas ini dibuka oleh Gus HM Febrina Delta Aghi (Gus Febrin), pengasuh Ponpes Az-Zuhri Ketileng Semarang yang juga salah satu putra Kyai terkemuka Jateng dan tokoh lintas agama berpengaruh, (alm) KH Syaiful Anwar Zuhri Rosyid (Abah Ipung), KH Alimuddin Lc, Pendeta Abed Nego Wasdi dari Badan Kerjasama Antar Gereja (BKSAG), Romo Budi Prayitno dari Gereja Katedral Keuskupan Purwokerto, dan Ketua DPD LDII Kabupaten Banyumas, H Sutanto MBA.

Gus Febrin dalam mukadimahnya menyebut, akhir-akhir ini banyak muncul masalah-masalah kebangsaan dan keagamaan di Indonesia. “ini siapa yang salah? Kyai atau umatnya? Pendeta atau jemaatnya? Bukankan Indonesia negara yang beragama?” katanya melontarkan pertanyaan menggelitik. Dia juga menyoroti minimnya muatan materi kebangsaan dan agama dalam kurikulum pendidikan umum.

Pemateri pertama, KH Alimuddin Lc, mengajak kepada peserta seminar untuk meningkatkan nasionalisme dan rasa cinta tanah air. Alimuddin juga mengingatkan, kepada peserta seminar, khususnya umat Islam, saat ini banyak pemahaman yang keliru di kalangan umat Islam dalam memaknai ke-Islamannya, “Kita adalah orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang berada di Indonesia” ujarnya. Ini menurutnya penting, agar umat Islam tetap cinta dengan NKRI, dan tidak terjerumus paham atau gerakan Islam radikal yang justru merusak keutuhan NKRI.

Pendeta Abed yang mendapat giliran menyampaikan materi kedua mengingatkan, Indonesia adalah bangsa yang beragama. Dia menerangkan, beragama itu baik, tapi tidak cukup hanya label/wadah (casing) saja. “Buat apa kita memuji-muji kepercayaan sendiri, tapi kita tidak hidup di dalamny?” katanya mengajak hadirin merenung. Pendeta Abed berpendapat, seharusnya umat beragama itu menjadi orang yang bisa dicontoh atau diteladani. “Jangan Jarkoni-bisa mengajar tapi tidak bisa nglakoni (melaksanakan)” sindirnya.

Senada dengan Pendeta Abed, Romo Budi Prayitno dalam ceramahnya menyebut istilah “Gajah Diblangkoni, iso khotbah ora iso nglakoni (bisa khotbah tidak bisa melaksanakan ajarannya). Romo yang punya banyak pengalaman perjalanan spiritual ke luar negeri itu bercerita tentang Piagam Madinah, sebuah kesepakatan yang ditulis oleh Khalifah ke-empat, Ali Bin Abi Thalib RA dan ditandatangani oleh Nabi Muhammad  SAW, yang memuat pernyataan yang menjamin kebebasan kepada semua orang untuk menjalankan agama/kepercayaannya di negeri Islam.

Romo Budi mengajak hadirin untuk mencontoh keteladanan Rosululloh dalam hal menghormati agama/kepercayaan lain tersebut. “Marilah moment yang baik ini kita jadikan oase di tengah-tengah padang pasir, yang akan memberikan kesegaran bagi orang-orang yang kehausan dan kekeringan” ajaknya. “Kita punya kerinduan yang sama, yaitu kesatuan bangsa. Mari pertahankan, jangan sampe oase ini kering dan tidak ada airnya lagi” imbuhnya.

Dalam ceramah penutup, Ketua DPD LDII Kabupaten Banyumas, H Sutanto MBA yang juga Ketua Ponpes Baitul Machmud Pekaja Kalibagor Banyumas dan aktivis FKUB Banyumas mengingatkan tentang pentingnya persatuan dan kesatuan, serta kerukunan antar umat beragama. “Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh” pekiknya bersemangat mengakhiri halaqoh sore itu.(sbr)

Sunday, February 28, 2016

Tokoh dari Berbagai Agama Ajak Masyarakat Banyumas Cinta NKRI



§  Seminar Lintas Agama

LDII-BANYUMAS/PURWOKERTO―Lima pemuka agama dan tokoh ormas agama di Kabupaten Banyumas yang mewakili berbagai agama yaitu Islam, Kristen dan Katholik menyampaikan materi dan mengajak masyarakat di Kabupaten Banyumas untuk meningkatkan rasa cinta terhadap Tanah Air Indonesia.

Para pemateri secara bergantian berceramah dalam acara Seminar Lintas Agama yang diselenggarakan oleh Yayasan Jama’atul Muslimin Kabupaten Banyumas bekerjasama dengan Forum Kerukunan antar Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Banyumas, Minggu (20/2) di Gedung Wakafiyah NU Jl Kertadirjan No 13 Karangbangkang Sokaraja Kulon Banyumas. Tema yang diusung “Menjadi Bangsa Indonesia yang Beragama.”

Acara yang diikuti puluhan santri, jemaat, pemuka agama dan kader ormas agama di Banyumas ini dibuka oleh Gus HM Febrina Delta Aghi (Gus Febrin), pengasuh Ponpes Az-Zuhri Ketileng Semarang yang juga salah satu putra Kyai terkemuka Jateng dan tokoh lintas agama berpengaruh, (alm) KH Syaiful Anwar Zuhri Rosyid (Abah Ipung), KH Alimuddin Lc, Pendeta Abed Nego Wasdi dari Badan Kerjasama Antar Gereja (BKSAG), Romo Budi Prayitno dari Gereja Katedral Keuskupan Purwokerto, dan Ketua DPD LDII Kabupaten Banyumas, H Sutanto MBA.

Gus Febrin dalam mukadimahnya menyebut, akhir-akhir ini banyak muncul masalah-masalah kebangsaan dan keagamaan di Indonesia. “ini siapa yang salah? Kyai atau umatnya? Pendeta atau jemaatnya? Bukankan Indonesia negara yang beragama?” katanya melontarkan pertanyaan menggelitik. Dia juga menyoroti minimnya muatan materi kebangsaan dan agama dalam kurikulum pendidikan umum.

Pemateri pertama, KH Alimuddin Lc, mengajak kepada peserta seminar untuk meningkatkan nasionalisme dan rasa cinta tanah air. Alimuddin juga mengingatkan, kepada peserta seminar, khususnya umat Islam, saat ini banyak pemahaman yang keliru di kalangan umat Islam dalam memaknai ke-Islamannya, “Kita adalah orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang berada di Indonesia” ujarnya. Ini menurutnya penting, agar umat Islam tetap cinta dengan NKRI, dan tidak terjerumus paham atau gerakan Islam radikal yang justru merusak keutuhan NKRI.

Pendeta Abed yang mendapat giliran menyampaikan materi kedua mengingatkan, Indonesia adalah bangsa yang beragama. Dia menerangkan, beragama itu baik, tapi tidak cukup hanya label/wadah (casing) saja. “Buat apa kita memuji-muji kepercayaan sendiri, tapi kita tidak hidup di dalamny?” katanya mengajak hadirin merenung. Pendeta Abed berpendapat, seharusnya umat beragama itu menjadi orang yang bisa dicontoh atau diteladani. “Jangan Jarkoni-bisa mengajar tapi tidak bisa nglakoni (melaksanakan)” sindirnya.

Senada dengan Pendeta Abed, Romo Budi Prayitno dalam ceramahnya menyebut istilah “Gajah Diblangkoni, iso khotbah ora iso nglakoni (bisa khotbah tidak bisa melaksanakan ajarannya). Romo yang punya banyak pengalaman perjalanan spiritual ke luar negeri itu bercerita tentang Piagam Madinah, sebuah kesepakatan yang ditulis oleh Khalifah ke-empat, Ali Bin Abi Thalib RA dan ditandatangani oleh Nabi Muhammad  SAW, yang memuat pernyataan yang menjamin kebebasan kepada semua orang untuk menjalankan agama/kepercayaannya di negeri Islam.

Romo Budi mengajak hadirin untuk mencontoh keteladanan Rosululloh dalam hal menghormati agama/kepercayaan lain tersebut. “Marilah moment yang baik ini kita jadikan oase di tengah-tengah padang pasir, yang akan memberikan kesegaran bagi orang-orang yang kehausan dan kekeringan” ajaknya. “Kita punya kerinduan yang sama, yaitu kesatuan bangsa. Mari pertahankan, jangan sampe oase ini kering dan tidak ada airnya lagi” imbuhnya.

Dalam ceramah penutup, Ketua DPD LDII Kabupaten Banyumas, H Sutanto MBA yang juga Ketua Ponpes Baitul Machmud Pekaja Kalibagor Banyumas dan aktivis FKUB Banyumas mengingatkan tentang pentingnya persatuan dan kesatuan, serta kerukunan antar umat beragama. “Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh” pekiknya bersemangat mengakhiri halaqoh sore itu.(sbr)
 
Copyright IT Staff © 2013 | Jalan Mentri Soepeno No 7 Sokaraja Banyumas 53181 | Telp : (0281) 694191 | Design by DPD LDII KABUPATEN BANYUMAS
Design by ITStaff | RazTech